Search This Blog

Loading...

Friday, June 18, 2010

Terjemahan Maulid Al Barzanji

Inilah Maulid yang disusun oleh Sayid Syeikh Ja’far Al Barzanji (1126-1184) diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh alm. Sayid Syeikh Thaha bin Fadhlullah As Suhaimi, Ketua Mufti Negara Singapura. Yang ditampilkan di sini belum se per berapa-nya. Masih panjang sebenarnya. Digubah oleh seorang ulama, beliau mufti asy Syafi’iyah di kota Madinah di zamannya.
Maulid ini sangat menyentuh hati, sangat agung. Tidak ada unsur syirik, sebagaimana dituduhkan oleh segelintir orang. Tidak mungkin ulama seperti Syeikh Al Barzanji mengajarkan kesyirikan.
sumber: http://orgawam.wordpress.com/2008/04/03/terjemah-maulid-al-barzanji/
DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PEMURAH LAGI MAHA PENYAYANG
Aku mulai riwayat Maulid ini dengan nama Allah yang Maha Tinggi derajatnya, dengan hal keadaanku mengharapkan limpah berkat pada segala apa yang diberikan kepada ku olehNya, dan juga aku mengucapkan sepenuh penuh honours dengan segala senang hatiku kepadaNya, adalah karena aku syukurkepadaNya dengan syukur yang seelok- baiknya.
Dan lagi aku memohon kepadaNya muga-muga la mengurniakankesejahteraan dan rahmat, kepada Nur yang la telah jadikan terdahuludaripada segala makhluk yang lainnya, yaitulah Nur yang telah berpindah-pindahdaripada satu dahi kepada satu dahi yang mulia keadaannya, yaitulah dahimoyang-moyang Nabi kita Muhammad Sall- Allahu alaihi-wa-sallam sehingga kepada dahi Abdullah ayahandanya.
Dan aku memohon lagi kepada Allah muga-muga Ia menganugerahkan keredhaanNya, kepada keluarga Nabi kita itu khasnya, dan kepada sahabat-sahabatnya dan sekalian orang-orang Islam umumnya.
Dan pula aku memohon kepada Allah yang maha sempurna zatNya dan segala sifat-sifat, muga-muga la memberi kepada kita sekalian petunjuk kepada jslan yang terang lagi nyata benarnya. Dan lagi aku memohon kepadaNya muga-muga la memelihara kita dari kesesatan pada langkah-langkah kita ke semuanya.
Setelah apa yang tersebut itu maka sekarang aku bentangkan kisah sejarah hidup Nabi kita Muhammad saw dengan ringkasnya, dan aku susunnya dengan menyatakan mula-mula sekali nasab keturunannya menyenangkan siapa yang mendengarnya, dan aku meminta tolong kepada Allah Ta’ala yang Maha Kuasa dan Maha Kuat Zat karena bahwasanya tiada daya dan tiada upaya melainkan semata-mata pada Allah jua letaknya.
YA ALLAH, HARUMKANLAH kuburnya YANG MULIA
DENGAN BAU-BAUAN YANG semerbak DARI RAHMAT DAN SEJAHTERA
Aku nyatakan bahwa Nur yang tersebut tadi itu akhirnya telah menjadi Penghulu kita Saiyidina Muhammad muga-muga Allah anugerahkan kesejahteraan kepadanya. Saiyidina Muhammad itu adalah anak Abdullah, dan Abdullah itu anak Syaibah maka Abdul Muttalib itu juga dipanggil oleh orang sebagai Syaibatul Hamd namanya. Dan Abdul-Muththalib itu anak Hasyim yang dipanggil Amr anak Abdi Manaf yang juga dinamakan AI Mughirah anak Qusai dan Qusai ini Mujamma ‘gelarnya. Kata Qusai ini asal maknanya adalah kejauhan karena ia tinggal di Mekah pada awalnya. Tetapi ketika kecilnya lagi ia telah dibawa pindah oleh ibunya ke negeri Qudhaa’ah yang jauh letaknya. Tetapi akhirnya ia telah dikembalikan oleh Allah ke negeri Mekah yang dimuliakan tanahnya. Lalu ia pun telah menjaga negeri Mekah itu dengan seteguh-teguhnya.
Maka Qusai itu adalah anak Kilab yang juga dinamakan Hakim anak Murrah anak Ka’ab anak Lu-ai anak Ghalib anak Fihir yang juga disebutkan Quraish namanya. Dan nama Quraish inilah dipakai bagi kaum Quraish itu yang berisi anak cucunya. Tetapi sebelum kaum itu dinamakan Quraish maka Kinanilah namanya, sebagaimana yang telah dikatakan oleh banyak pakar nasab yang luas pengetahuannya. Dan mereka itu telah tetap berkepercayaan dan puas bahwa begitulah keadaannya. Dan Fihir atau Quraisy itu pula anak Malik yang ialah pula anak Nadhar anak Kinaanah anak Khuzaimah anak Mudrikah anak Ilyas berikutnya.
Dan Ilyas inilah orang yang mula-mula sekali menghadiahkan unta-unta ke Tanah Haram Mekah untuk ia membuat kurban akannya. Dan telah didengar oleh orang dari dalam tulang sulbi Ilyas itu akan suara Nabi kita Muhammad saw menyebut-nyebut dan memuji-muji Allah Ta’ala dan mengucap Talbiah kepada-Nya. Ilyas itu pula anak Nizar anak Ma’ad anak Adnan dan begitulah nasab itu susunannya.
Maka susunan keturunan atau nasab Rasulullah saw ini menurut sebagaimana yang dinyatakan oleh Hadith Nabi kita saw yang benar keadaannya. Dan Adnan itu nasabnya bersambung hingga kepada seorang kekasih Allah yaitulah Nabi Ibrahim moga-moga Allah cucurkan rahmat keatasnya. Tetapi Nabi kita telah melarang dan menahan supaya jangan disebutkan satu persatu nama ninda-nindanya yang dari Adnan hingga Nabi Ibrahim moyangnya. Tetapi tidak syak lagi di sisi ahli-ahli yang pandai tentang keturunan Nabi kita itu atau nasabnya, bahwa Adnan itu ialah keturunan dari Nabi Ismail moga-moga Allah anugerahkan kesejahteraan kepadanya.
Dan Ismail itu pula adalah seorang putera Nabi Ibrahim yang terkenal kelebihannya. Maka sungguh sempurna keturunan itu seolah-olah bagaikan seutas rantai yang ditatah oleh permata-permata yang gemerlapan seperti bintang-bintang indahnya. Betapa tidak karena bukankah Penghulu kita saw. itu menjadi permata yang terpilih yang berada ditengah-tengahnya, dan walaupun dia asalnya seorang yatim tetapi Allah Ta’ala telah memeliharanya. Alangkah mulia keturunan yang tersebut itu yang kesemuanya telah dipelihara oleh Allah dari kejahatan zina di masa jahiliah dahulunya.
Adapun keterangan ini ada diriwayatkan oleh Syeikh Zainuddin seorang Iraq bangsanya, didalam sebuah karangan yang lezat ceteranya.
Maka untuk memuliakan Nabi kita saw dan memeliharanya itulah sebabnya Allah Ta’ala telah memelihara seluruh nenek moyangnya, dari melakukan maksiat zina yang sangat keji adanya. Maka oleh karena itu tidaklah kekejian zina itu mengenai nasabnya. Semua bapak-bapak Nabi saw. dari Nabi Adam hingga ayahnya Abdullah dan bundanya Aminah tidak pernah melakukan zina sekaliannya.
Maka cahaya kenabian Nabi kita itu telah berpindah-pindah pada tiap-tiap dahi nenek moyangnya itu dengan nyatanya. Dan semakin ternyata cahaya itu seumpama bulan purnama pada dahi Syaibah kakeknya dan pada dahi Abdullah bapaknya
YA ALLAH, HARUMKANLAH kuburnya YANG MULIA
DENGAN BAU-BAUAN YANG semerbak DARI RAHMAT DAN SEJAHTERA
Dan apakala Allah Ta’ala berkehendak menjadikan Nur yang tersebut itu sebagai RasuINya, yang dinamakan Muhammad dengan memiliki roh dan jasad serta sifat-sifatnya, maka Allah Ta’ala pun memindahkan cahaya itu dari Saiyidina Abdullah ayahandanya, kepada rahim Sitti Aminah Az-zuhriah bundanya . Dan Allah Ta’ala yang senantiasa dekat pada mereka yang taat kepadaNya, dan yang memperkenalkan doa mereka yang berdoa dengan sungguh-sungguh kepadaNya, telah menentukan bahwa Sitti Aminah itulah yang menjadi ibu bagi Nabi Pilihannya, serta sekalian Malaikat telah berseru-sera mernberitahu kepada segala kulit langit dan bumi dengan lantangnya, berkenaan mengandungnya Sitti Aminah akan Nur Nabi Allah itu dan Pesuruh-Nya.
Dan mereka yang telah mengetahui kedatangan Nabi saw., Itu serta menunggu-nunggunya, telah merasa sangat sukacita dan bertambah tambah rindu terhadap kezahirannya, seolah-olah perasaan mereka seperti saat angin sepoi-sepoi bahasa bertiup pada waktu subuh dengan lembutnya, yang menjadikan mereka rindu kepada matahari yang akan terbit kemudian. Dan jadilah subur segala tumbuh tumbuhan di Tanah Mekah setelah beberapa lama keringnya, laksana bumi dipakai dengan pakaian yang hijau yaitu Sundus namanya. Dan pada saat itu juga buah-buahan telah mulai menjadi ranum rasanya, dan telah hampirlah masa tuan-tuan empunya pohon buah-buahan itu memetiknya.
Dan pula berkenaan mengandungnya Siti Aminah itu maka segala singgasana raja-raja yang kafir saat itu telah runtuh dengan sekonyong-konyongnya, dan pula semua berhala-berhala telah tersungkur ke atas mukanya dan mulutnya, dan segala binatang jinak dan liar baik di darat atau di taut telah merasa amat sukacitanya, ialah dengan sebab segala binatang-binatang itu telah menerima berita tersebut Junjungan kita saw itu sudah dikandung oleh Sitti Aminah yang bertuah nasibnya. Bahkan lain-lain makhluk juga pada masa itu telah merasai lezat kesukaan dengan amat gembiranya, umpama dapat minum segelas air yang sangat menyegarkan rasanya.
Dan pula segala jin-jin telah diberitahu akan kabar yang menyenangkan itu dengan jelasnya, tetapi pula sekalian tukang tukang tilik dan ahli-ahli sihir telah berasa lemah dengan gemetarnya, dan demikian juga ulama’-ulama ‘Nasrani telah takut dan khawatir adalah karena telah dekat waktu kedatangannya.
Dan telah sibuklah sekalian orang-orang yang mengetahui hal itu berbicara dan bertanya-tanya berkenaannya, dan mereka itu telah tercengang dan heran mendengarkan berita-berita tentang keelokan sifat-sifatnya, sebagaimana yang ada seperti di dalam kitab kitab Suci yang sebelumnya seperti Taurat dan Injil dan sebagainya.
Dan ketika Sitti Aminah yang mengandung itu sedang tidur tiba tiba datanglah suatu wujud kepadanya; lalu ada itu berkata: “Hai Aminah sesungguhnya kamu telah mengandung Penghulu sekalian manusia dan sebaik-baik makhluk adanya. Dan apabila kamu sudah melahirkan dia nanti dengan selamat, maka engkau Sebutkanlah sifat-sifat dia Muhammad yang berarti seorang yang terpuji adalah karena ia akan dipuji kesudahannya. “
YA ALLAH, HARUMKANLAH kuburnya YANG MULIA
DENGAN BAU-BAUAN YANG semerbak DARI RAHMAT DAN SEJAHTERA
Dan apabila Nabi kita telah dikandung dua bulan oleh ibunya menurut pernyataan ahli-ahli sejarah yang termasyur riwayatnya, maka wafatlah di negeri Madinah, Sayidina Abdullah, ayahandanya. Dan kondisi wafatnya di sana: ia sedang dalam kota itu lalu ia singgah di tempat ninda-ninda saudaranya, yaitu keluarga Bani ‘Adi dari suku Najjar, tiba-tiba ia mendapat sakit di sana sebulan lamanya, lalu mereka pun telah merawatnya serta mencoba mengobati penyakitnya , tetapi usaha mereka tidak berhasil seperti yang mereka harapkan, lalu wafatlah Sayidina Abdullah di sana karena sudah sampai ajalnya, lalu di sana juga mereka mengebumikannya.
Dan ketika Sitti Aminah telah sempurna mengandung Nabi saw. sembilan bulan lamanya, menurut perkataan anggota Tanggal yang kuat keterangannya, pada ketika itu juga telah mulai tiba musim akhir kemarau, tiba-tiba datanglah kepada ibu Nabi saw. pada malam menjelang kelahirannya, Sitti Asiah dan Sitti Maryam serta beberapa bidadari dari Surga, maka mulailah Sitti Aminah merasa sakit untuk bersalin kemudian ia pun melahirkan Junjungan kita di dalam keadaan dengan cahanya yang gilang-gemilang.
(BERDIRI)
Cahaya yang seperti matahari bersihnya
Menerangi malam dengan amat terangnya:
Malam yang dilahirkan Nabi kita didalamnya
Yang membawa agama yang nyata benarnya.
Maka karena itu dapatlah Sitti Aminah ibunya
kemegahan yang wanita lain tidak merasa:
la membawa seorang putra untuk manusia sekalian:
Putera yang lebih mulia dari anak Maryam yang perawan.
Kelahiran Nabi kita pada pandangan kafir umumnya
ialah suatu kedukaan yang terasa sangat berat.
Maka bertalu-talulah suara bersorak dengan riuhnya:
“Telah zahir Nabi pilihan; inilah kegembiraan yang sebenarnya.”
Demikianlah keadaan dilahirkan Nabi kita itu dengan singkat, dan telah disetujui oleh ulama’-ulama ‘dan pemimpin-pemimpin Islam sekalian, bahwa sangat patut kita berdiri ketika kita sampai di sini membacanya, adalah untuk menunjukkan kesukaan kita kepada kelahiran Nabi dan cinta kepada dirinya, dan juga untuk menandakan bahwa kita memuliakannya. Maka sungguh bertuahlah siapa yang suka memuliakan Nabi saw itu sebagai tujuan hidupnya.
YA ALLAH, HARUMKANLAH kuburnya YANG MULIA
DENGAN BAU-BAUAN YANG semerbak DARI RAHMAT DAN SEJAHTERA
Maka lahirlah Nabi kita Muhammad saw. itu dari bundanya dengan meletakkan ke atas bumi dua belah tangannya, dan ia mendongakkan mukanya kelangit serta terbuka matanya, keadaan begitu adalah sebagai menandakan kemuliaannya dan ketinggiannya, serta kelebihan kelebihannya yang melebihi makhluk lain semuanya. Dan juga yang demikian itu adalah menunjukkan bahwa ia kekasih Allah yang dijadikan sangat indah perangainya dan bentuk rupanya.
Dan setelah lahir Nabi saw itu maka segeralah Siti Aminah ibunya memanggil Abdul Muthallib nindanya, dan ketika itu Abdul Muthallib ada di Ka’abah sedang tawaf mengelilinginya, lalu apabila mendengar yang demikian itu besarlah kegembiraannya. la pun datang melihat Nabi dengan segera, dan kemudian ia membawa Nabi ke Ka’abah lalu masuk ke dalamnya, dan ia berdiri di situ serta berdoa kepada Allah dengan niat bersihnya, dan ia bersyukur kepada Allah karena telah dikaruniai seorang cucunda kepadanya.
Nabi kita Muhammad saw itu lahir dengan sangat bersih keadaannya, serta ia telah berkhitan dan telah terpotong pusatnya dari dalam perut ibunya. Dan harum bau tubuhnya, serta berminyak rambutnya, serta tercelak kedua matanya, adalah dengan kodrat dan kehendak Tuhannya. Inilah riwayat yang masyhur walaupun ada sebagian ularna ‘yang lain mengatakan bahwa Nabi kita itu telah dikhitan oleh Abdul Muttalib nindanya setelah Nabi sempurna tujuh malam umurnya. Dan nindanya itu telah mengadakan majelis jamuan karena sesuai dengannya, serta ia menamakan dia Muhammad dan memuliakan posisinya.
YA ALLAH, HARUMKANLAH kuburnya YANG MULIA
DENGAN BAU-BAUAN YANG semerbak DARI RAHMAT DAN SEJAHTERA
Maka telah terjadilah beberapa kejadian yang mengherankan ketika lahir, dan yang demikian itu adalah sebagai tanda-tanda untuk menguatkan iman kita bahwa Nabi itu dipilih oleh Allah untuk dijadikan NabiNya dan Rasul-Nya.
Satu dari hal-hal yang luar biasa itu sebagaimana yang tersebut tadinya adalah ketika dilahirkan Nabi kita maka malaikat-malaikat yang menjaga langit telah ditambahkan bilangannya, supaya langit itu menjadi lebih kuat pemeliharaannya, dan telah dibuang dari langit segala jin-jin yang ingkar dan setan-setan yang jahat kelakuannya, dan telah dilemparkan ke semua setan-setan yang hendak naik ke langit itu api yang membakar, dan telah turun kepada Nabi kita beberapa bintang-bintang yang terang cahayanya, dan disebabkan ini Teranglah pada malam itu kota Mekah baik tanah ratanya atau bukit-Jahwe bersabda.
Dan juga telah keluar bersama-sama Nabi saw. suatu cahaya yang amat terang keadaannya, yang menerangi seluruh tempat lahir Junjungan kita saw., sama seperti cahaya lampu-lampu yang menerangi mahligai raja Romawi di Syam negerinya. Maka dilihat cahaya itu oleh mereka-mereka yang tinggal di Tanah Mekah.
Dan juga telah roboh istana raja Persia di dalam negeri Irak di Kota Madain tempatnya. Maka istana yang roboh itu telah dibangun oleh raja Persia yang bernama Anusyarwan dengan megah, maka runtuh empat belas menara yang tinggi dari menara-menaranya, dan telah berguncang pemerintah Persia itu disebabkan terperanjat pada kejadian-kejadian yang dengan tiba-tiba menimpanya. Dan beberapa api yang disembah oleh orang-orang kafir Persia tiba-tiba padam pada malam itu, padahal api itu dijaga oleh mereka dan tidak pernah padam sejak seribu tahun sebelumnya. Maka padamnya api itu adalah dengan sebab terbitnya cahaya wajah Nabi saw yang bersinar seperti terangnya bulan empat belas.
Dan juga pada saat itu keringlah air telaga yang bernama Sa’awah yang terletak di antara negeri Hamdan dan Qom di dalam negeri Persia. Maka sumur itu jadi kering karena telah kering semua poin-airnya, tetapi sebaliknya telah melimpah pula air pada lembah yang bernama Samawah padahal biasanya lembah itu kering kerontang dan banyak batunya, serta tidak pernah sebelum itu dapat ditemukan air di situ meskipun untuk menghilangkan dahaga siapapun yang kering kerongkongannya.
Dilahirkan Junjungan kita saw. itu di suatu tempat yang dikenal dengan nama Al ‘Iraas di dalam negeri Mekah letaknya, dan Mekah adalah negeri yang tidak bisa dipotong pohon pohonnya dan tidak dapat dicabut rumput-rumputnja.
Maka telah sedikit berselisih pendapat ulama ‘Sejarah berlaku dilahirkannya Junjungan kita saw. itu tentang tahunnya, dan juga pada bulannya dan harinya. Tetapi pendapat yang kuat diantara pendapat-pendapat tadinya adalah Junjungan kita saw. itu telah dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal dalam Tahun Gajah namanya, karena pada tahun itu raja negeri Ethiopia telah mencoba menyerang kota Mekah dengan menggunakan gajah-gajah yang banyak jumlahnya. Tetapi Allah Ta’ala telah membatasi dan menghalangi mereka untuk sampai ke Mekah karena la memeliharanya.
YA ALLAH, HARUMKANLAH kuburnya YANG MULIA
DENGAN BAU-BAUAN YANG semerbak DARI RAHMAT DAN SEJAHTERA
Bahwa Junjungan kita saw. itu disusui oleh ibunya selama beberapa hari waktu, dan kemudian ia disusui oleh seorang perempuan yang bernama Tsuwaibah dari kaum Aslam namanya. Tsuwaibah itu asalnya seorang budak kepunyaan Abu Lahab tetapi Abu Lahab telah memerdekakannya, ketika Tsuwaibah itu datang memberitahu akan kelahiran Junjungan kita itu kepadanya. Maka Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah karena berita itu sangat menggembirakan hatinya.
Maka Tsuwaibah juga menyusui bersama Rasulullah anak lelakinya sendiri Masruh namanya, dan juga seorang anak orang lain yaitu Abi Salamah gelarnya, serta Tsuwaibah itu sangat memuliakan Nabi dan menghormatinya. Dan sebelum itu Tsuwaibah juga telah menyusui Sayidina Hamzah seorang paman Nabi saw. yang dipuji karena jasanya karena ia banyak menolong dan mempertahankan Agama Islam serta menolongnya.
Dan kemudian nanti pada saat Nabi saw. telah menjadi rasul dan telah hijrah ke Madinah, Nabi mengirim kepada Tsuwaibah itu dari Madinah hadiah uang dan pakaian yang layak baginya. Maka selalu hadiah itu datang dari Nabi saw. ke Tsuwaibah hingga Tsuwaibah menemui ajalnya.
Ada sebagian orang mengatakan bahwa Tsuwaibah berpegang terus pada agama kaumnya, yaitu agama jahiliah hingga matinya, tetapi ada pula orang yang mengatakan bahwa ia telah memeluk Islam sebelum akhir hayatnya, dan perselisihan ini disebutkan dan diceritakan oleh lbnu Mandah yang terkenal namanya.
Bahwa setelah Nabi saw. disusui oleh Tsuwaibah yang telah disebut tadi, maka ia telah disusui pula oleh seorang perempuan muda yang digelari Halimah As sa’diah, dan Halimah sebelum Nabi saw. disusui olehnya, ia telah mencoba mencari upah dengan susah payah, untuk hendak menyusui siapa saja anak-anak orang Mekah, tetapi telah ditolak oleh mereka karena kemiskinannya. Tetapi ketika ia menyusui Rasulullah saw. maka ia menjadi lega dan berkat kehidupannya pada hari itu juga sebelum matahari terbit, setelah ia menderita kepicikan dan kesusahan yang sulit ditanggung olehnya.
Maka Allah Ta’ala telah memberi kepada Halimah itu air susu yang banyak lagi putih dan bersih keadaannya. Maka menyusulah Nabi saw. akan susu yang di sebelah kanannya, sedangkan seorang anak lain menyusu pula akan susu yang di sebelah kirinya, lalu jadilah Halimah itu mewah dan senang kehidupannya, padahal sebagaimana telah disebutkan tadi, kondisi Halimah sebelum itu papa dan kurus dan lemah badannya. Bahkan menjadi gemuk seekor unta dan beberapa ekor kambing yang dipelihara olehnya, dan hilanglah dari sisi Halimah itu segala bala ‘dan kecelakaan dan sebagainya, bahkan sebaliknya kehidupan Halimah itu telah diliputi oleh keadaan yang bertuah selanjutnya, yaitu murah rezeki serta senang dan aman dengan sepenuhnya.

No comments:

Post a Comment